Memilih Sekam dan Tongkol Jagung
BANDUNG, KCM – Sebagai bangsa yang mayoritas makan nasi dan jagung, sudah selayaknya bangsa Indonesia ingat limbah padat pertanian yang tidak dimanfaatkan lagi atau biomassa dari padi yakni sekam dan limbah jagung berupa tongkol.
Pasalnya, mengacu pada isu pemanasan global, sekam padi dan tongkol jagung boleh jadi bakal dituding sebagai biang keladi melambungnya jumlah karbondioksida di udara jika upaya lanjutan yang dilakukan melulu dengan cara pembakaran sebagai tahap akhir pemusnahan. Ujung-ujungnya, bila kita tak pernah berusaha keras mencari manfaat lain kedua biomassa itu, peningkatan suhu berikut terlampauinya batas normal tinggi muka air laut terhadap daratan bakal gampang terealisasi di Tanah Air. Tentu, kita tidak mau Ibu Kota Jakarta segera menjadi “kota” bawah laut bukan?
Mari sejenak berhitung. Pada 2006 lalu, Indonesia mampu menghasilkan 54,66 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dari jumlah itu, menggunakan perhitungan rendemen 65 persen, sebanyak 35,53 juta ton adalah beras. Jadi, sisa GKG sebanyak 19, 13 ton adalah sekam.
Lalu, jagung. Seturut catatan tahun lalu, dunia berhasil memanen 680 juta ton jagung. Di Indonesia, lebih dari 28 persen yakni 800 ribu hektare dari 3 juta lahan sudah ditanami bibit jagung hibrida.
Nah, bisa dibayangkan, kalau seluruh limbah padi dan jagung itu dibakar, berapa banyak sumbangan gas asam arang asal Negeri Zamrud Khatulistiwa tercinta? “Padahal, dari penelitian saya, sekam dan tongkol jagung bisa menjadi pilihan sumber energi alternatif, tidak cuma dibakar,” kata Prof. Dr. Herri Susanto, peraih Tanoto Foundation Professorship Award lewat judul penelitiannya bertajuk Penyempurnaan Teknologi Gasifikasi Biomassa sebagai Sumber Energi Alternatif yang Ramah Lingkungan, Senin (6/8) lalu.
Jadilah, penelitian tersebut disambut baik sebagai riset yang kelak hasilnya berdampak langsung bagi banyak masyarakat sekaligus pelestarian lingungan, menyisihkan sepuluh proposal lainnya yang sampai ke meja tim penilai lembaga nirlaba milik konglomerat Sukanto Tanoto itu. Alhasil, Prof. Dr. Herri Susanto pun memperoleh penghargaan berupa donasi Rp1,2 miliar. “Dana tersebut untuk penelitian dalam jangka waktu tiga tahun,” kata Direktur Eksekutif Tanoto Foundation Ibrahim Hasan dalam kesempatan pemberian penghargaan itu.
Lebih lanjut, Prof. Herri, begitu sapaan akrab Guru Besar Madya Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) kelahiran Madiun 27 April 1953 itu, memaparkan, penelitian yang hasil akhirnya akan dapat memacu produktivitas pertanian mulai dari suplai listrik pedesaan hingga pengolahan hasil itu memang belum rampung. Beserta tim pendukung, dirinya masih berupaya mengurai problem banyaknya arang terbuang, kandungan tar yang masih tinggi hingga masih adanya senyawa turunan fenol yang beracun pada air limbah bekas pembersih pada proses gasifikasi.
Sebelumnya, pada Maret 2007, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof.Dr.Ir. SM Widyastuti, M.Sc. yang melakukan penelitian pada jamur ganoderma menerima penghargaan dimaksud.
Penulis: primus
Sumber: Kompas Cybermedia, Kamis, 09 Agustus 2007
